Main Dokter2an Yuk

    Share
    avatar
    Admin
    Admin

    Jumlah posting : 467
    Join date : 12.05.10
    Age : 32

    Main Dokter2an Yuk

    Post by Admin on 25th July 2010, 3:34 am

    Namaku Rini, usiaku sekarang 23 tahun, aku bekerja sebagai salah satu
    karyawati di BUMN besar di Jakarta. Oh ya, kata temen-temen sih aku
    memiliki wajah yang cantik, dengan rambut sebahu, kulitku kuning
    langsat, tinggi 163 cm, dengan tubuh yang langsing dan seksi. Aku ingin
    menceritakan pengalaman seksku yang pertama justru dari teman baik
    ayahku sendiri. Peristiwa yang tak kuduga ini terjadi ketika aku baru
    saja akan masuk kelas 2 SMP, ketika aku masih tinggal di Yogya. Teman
    ayah itu bernama Om Bayu dan aku sendiri memanggilnya Om. Karena
    hubungan yang sudah sangat dekat dengan Om Bayu, ia sudah dianggap
    seperti saudara sendiri di rumahku. Om Bayu wajahnya sangat tampan,
    wajahnya tampak jauh lebih muda dari ayahku, karena memang usianya
    berbeda agak jauh. Usia Om Bayu ketika itu sekitar 28 tahun. Selain
    tampan, Om Bayu memiliki tubuh yang tinggi tegap dengan dada yang
    bidang.
    Kejadian ini bermula ketika liburan semester. Waktu itu kedua orang
    tuaku harus pergi ke Madiun karena ada perayaan pernikahan saudara.
    Karena kami dan Om Bayu cukup dekat, maka aku minta kepada orang tuaku
    untuk menginap saja di rumah Om Bayu yang tidak jauh dari rumahku selama
    5 hari itu. Om Bayu sudah menikah, tetapi belum punya anak. Istrinya
    adalah seorang karyawan perusahaan swasta, sedangkan Om Bayu tidak
    mempunyai pekerjaan tetap. Dia adalah seorang makelar mobil. Hari-hari
    pertama kulewati dengan ngobrol-ngobrol sambil bercanda-ria, setelah
    istri Om Bayu pergi ke kantor. Om Bayu sendiri karena katanya tidak ada
    order untuk mencari mobil, jadi tetap di rumah sambil menunggu telepon
    kalau-kalau ada langganannya yang mau mencari mobil. Untuk melewatkan
    waktu, sering juga kami bermain bermacam permainan seperti halma atau
    monopoli, karena memang Om Bayu orangnya sangat pintar bergaul dengan
    siapa saja.
    Ketika suatu hari, setelah makan siang, tiba-tiba Om Bayu berkata
    kepadaku, “Rin… kita main dokter-dokteran yuk.., sekalian Rini, Om
    periksa beneran, mumpung gratis”.
    Memang kata ayah dahulu Om Bayu pernah kuliah di fakultas kedokteran,
    namun putus di tengah jalan karena menikah dan kesulitan biaya kuliah.
    “Ayoo…”, sambutku dengan polos tanpa curiga.
    Kemudian Om Bayu mengajakku ke kamarnya, lalu mengambil sesuatu dari
    lemarinya, rupanya ia mengambil stetoskop, mungkin bekas yang dipakainya
    ketika kuliah dulu.
    “Nah Rin, kamu buka deh bajumu, terus tiduran di ranjang”.
    Mula-mula aku agak ragu-ragu. Tapi setelah melihat mukanya yang
    bersungguh-sungguh akhirnya aku menurutinya.
    “Baik Om”, kataku, lalu aku membuka kaosku, dan mulai hendak
    berbaring.
    Namun Om Bayu bilang, “Lho… BH-nya sekalian dibuka dong.. biar Om
    gampang meriksanya”.
    Aku yang waktu itu masih polos, dengan lugunya aku membuka BH-ku,
    sehingga kini terlihatlah buah dadaku yang masih mengkal.
    “Wah… kamu memang benar-benar cantik Rin…”, kata Om Bayu.
    Kulihat matanya tak berkedip memandang buah dadaku dan aku hanya
    tertunduk malu.
    Setelah telentang di atas ranjang, dengan hanya memakai rok mini
    saja, Om Bayu mulai memeriksaku. Mula-mula ditempelkannya stetoskop itu
    di dadaku, rasanya dingin, lalu Om Bayu menyuruhku bernafas sampai
    beberapa kali, setelah itu Om Bayu mencopot stetoskopnya. Kemudian
    sambil tersenyum kepadaku, tangannya menyentuh lenganku, lalu
    mengusap-usapnya dengan lembut.
    “Waah… kulit kamu halus ya, Rin… kamu pasti rajin merawatnya”,
    katanya.
    Aku diam saja, aku hanya merasakan sentuhan dan usapan lembut Om
    Bayu. Kemudian usapan itu bergerak naik ke pundakku. Setelah itu tangan
    Om Bayu merayap mengusap perutku. Aku hanya diam saja merasakan perutku
    diusap-usapnya, sentuhan Om Bayu benar-benar terasa lembut. Dan
    lama-kelamaan terus terang aku mulai jadi agak terangsang oleh
    sentuhannya, sampai-sampai bulu tanganku merinding dibuatnya. Lalu Om
    Bayu menaikkan usapannya ke pangkal bawah buah dadaku yang masih mengkal
    itu, mengusap mengitarinya, lalu mengusap buah dadaku. Ih… baru kali
    ini aku merasakan yang seperti itu, rasanya halus, lembut, dan geli,
    bercampur menjadi satu. Namun tidak lama kemudian, Om Bayu menghentikan
    usapannya. Dan aku kira… yah hanya sebatas ini perbuatannya. Tapi
    kemudian Tom Bayu bergerak ke arah kakiku.
    “Nah.. sekarang Om periksa bagian bawah yah…”, katanya.
    Setelah diusap-usap seperti tadi yang terus terang membuatku agak
    terangsang, aku hanya bisa mengangguk pelan saja. Saat itu aku masih
    mengenakan rok miniku, namun tiba-tiba Om Bayu menarik dan meloloskan
    celana dalamku. Tentu saja aku keget setengah mati.
    “Ih… Om kok celana dalam Rini dibuka…?”, kataku dengan gugup.
    “Lho… kan mau diperiksa.. pokoknya Rini tenang aja…”, katanya dengan
    suara lembut sambil tersenyum, namun tampaknya mata dan senyum Om Bayu
    penuh dengan maksud tersembunyi. Tetapi saat itu aku sudah tidak bisa
    berbuat apa-apa.
    Setelah celana dalamku diloloskan oleh Om Bayu, dia duduk bersimpuh
    di hadapan kakiku. Matanya tak berkedip menatap vaginaku yang masih
    mungil, dengan bulu-bulunya yang masih sangat halus dan tipis. Lalu
    kedua kakiku dinaikkan ke pahanya, sehingga pahaku menumpang di atas
    pahanya. Lalu Om Bayu mulai mengelus-elus betisku, halus dan lembut
    sekali rasanya, lalu diteruskan dengan perlahan-lahan meraba-raba pahaku
    bagian atas, lalu ke paha bagian dalam. Hiii… aku jadi merinding
    rasanya.
    “Ooomm…”, suaraku lirih.
    “Tenang sayang.. pokoknya nanti kamu merasa nikmat…”, katanya sambil
    tersenyum.
    Om Bayu lalu mengelus-elus selangkanganku, perasaanku jadi makin
    tidak karuan rasanya. Kemudian dengan jari telunjuknya yang besar, Om
    Bayu menggesekkannya ke bibir vaginaku dari bawah ke atas.
    “Aahh… Oooomm…”, jeritku lirih.
    “Sssstt… hmm… nikmat.. kan…?”, katanya.
    Mana mampu aku menjawab, malahan Om Bayu mulai meneruskan lagi
    menggesekkan jarinya berulang-ulang. Tentu saja ini membuatku makin
    tidak karuan, aku menggelinjang-gelinjang, menggeliat-geliat kesana
    kemari.
    “Ssstthh… aahh… Ooomm… aahh…”, eranganku terdengar lirih, dunia
    serasa berputar-putar, kesadaranku bagaikan terbang ke langit. Vaginaku
    rasanya sudah basah sekali karena aku memang benar-benar sangat
    terangsang sekali.
    Setelah Om Bayu merasa puas dengan permainan jarinya, dia
    menghentikan sejenak permainannya itu, tapi kemudian wajahnya mendekati
    wajahku. Aku yang belum berpengalaman sama sekali, dengan pikiran yang
    antara sadar dan tidak sadar, hanya bisa melihatnya pasrah tanpa
    mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Wajahnya semakin dekat,
    kemudian bibirnya mendekati bibirku, lalu ia mengecupku dengan lembut,
    rasanya geli, lembut, dan basah. Namun Om Bayu bukan hanya mengecup, ia
    lalu melumat habis bibirku sambil memainkan lidahnya. Hiii… rasanya jadi
    makin geli… apalagi ketika lidah Om Bayu memancing lidahku, sehingga
    aku tidak tahu kenapa, secara naluri jadi terpancing, sehingga lidahku
    dengan lidah Om Bayu saling bermain, membelit-belit, tentu saja aku jadi
    semakin nikmat kegelian.
    Kemudian Om Bayu mengangkat wajahnya dan memundurkan badannya. Entah
    permainan apa lagi yang akan diperbuatnya pikirku, aku toh sudah pasrah.
    Dan eh… gila… tiba-tiba badannya dimundurkan ke bawah dan Om Bayu
    tengkurap diantara kedua kakiku yang otomatis terkangkang. Kepalanya
    berada tepat di atas kemaluanku dan Om Bayu dengan cepat menyeruakkan
    kepalanya ke selangkanganku. Kedua pahaku dipegangnya dan diletakkan di
    atas pundaknya, sehingga kedua paha bagian dalamku seperti menjepit
    kepala Om Bayu. Aku sangat terkejut dan mencoba memberontak, akan tetapi
    kedua tangannya memegang pahaku dengan kuat, lalu tanpa sungkan-sungkan
    lagi Om Bayu mulai menjilati bibir vaginaku.
    “Aaa… Ooomm…!”, aku menjerit, walaupun lidah Om Bayu terasa lembut,
    namun jilatannya itu terasa menyengat vaginaku dan menjalar ke seluruh
    tubuhku. Namun Om Bayu yang telah berpengalaman itu, justru menjilati
    habis-habisan bibir vaginaku, lalu lidahnya masuk ke dalam vaginaku, dan
    menari-nari di dalam vaginaku. Lidah Om Bayu mengait-ngait kesana
    kemari menjilat-jilat seluruh dinding vaginaku. Tentu saja aku makin
    menjadi-jadi, badanku menggeliat-geliat dan terhentak-hentak, sedangkan
    kedua tanganku mencoba mendorong kepalanya dari kemaluanku. Akan tetapi
    usahaku itu sia-sia saja, Om Bayu terus melakukan aksinya dengan ganas.
    Aku hanya bisa menjerit-jerit tidak karuan.
    “Aahh… Ooomm… jaangan… jaanggann… teeerruskaan… ituu… aa… aaku…
    nndaak… maauu.. geellii… stooopp… tahaann… aahh!”.
    Aku menggelinjang-gelinjang seperti kesurupan, menggeliat kesana
    kemari antara mau dan tidak. Biarpun ada perasaan menolak akan tetapi
    rasa geli bercampur dengan kenikmatan yang teramat sangat mendominasi
    seluruh badanku. Om Bayu dengan kuat memeluk kedua pahaku diantara
    pipinya, sehingga walaupun aku menggeliat kesana kemari namun Om Bayu
    tetap mendapatkan yang diinginkannya. Jilatan-jilatan Om Bayu
    benar-benar membuatku bagaikan orang lupa daratan. Vaginaku sudah
    benar-benar banjir dibuatnya. Hal ini membuat Om Bayu menjadi semakin
    liar, ia bukan cuma menjilat-jilat, bahkan menghisap, menyedot-nyedot
    vaginaku. Cairan lendir vaginaku bahkan disedot Om Bayu habis-habisan.
    Sedotan Om Bayu di vaginaku sangat kuat, membuatku jadi semakin
    kelonjotan.
    Kemudian Om Bayu sejenak menghentikan jilatannya. Dengan jarinya ia
    membuka bibir vaginaku, lalu disorongkan sedikit ke atas. Aku saat itu
    tidak tahu apa maksud Om Bayu, rupanya Om Bayu mengincar clitorisku. Dia
    menjulurkan lidahnya lalu dijilatnya clitorisku.
    “Aahh…”, tentu saja aku menjerit keras sekali. Aku merasa seperti
    kesetrum karena ternyata itu bagian yang paling sensitif buatku. Begitu
    kagetnya aku merasakannya, aku sampai mengangkat pantatku. Om Bayu malah
    menekan pahaku ke bawah, sehingga pantatku nempel lagi ke kasur, dan
    terus menjilati clitorisku sambil dihisap-hisapnya.
    “Aa… Ooomm… aauuhh… aahh… !”, jeritku semakin menggila.
    Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang teramat sangat, yang ingin
    keluar dari dalam vaginaku, seperti mau pipis, dan aku tak kuat
    menahannya, namun Om Bayu yang sepertinya sudah tahu, malahan menyedot
    clitorisku dengan kuatnya.
    “Ooomm… aa… !”, tubuhku terasa tersengat tegangan tinggi, seluruh
    tubuhku menegang, tak sadar kujepit dengan kuat pipi Om Bayu dengan
    kedua pahaku di selangkanganku. Lalu tubuhku bergetar bersamaan dengan
    keluarnya cairan vaginaku banyak sekali, dan tampaknya Om Bayu tidak
    menyia-nyiakannya. Disedotnya vaginaku, dihisapnya seluruh cairan
    vaginaku. Tulang-tulangku terasa luluh lantak, lalu tubuhku terasa lemas
    sekali. Aku tergolek lemas.
    Om Bayu kemudian bangun dan mulai melepaskan pakaiannya. Aku, yang
    baru pertama kali mengalami orgasme, merasakan badanku lemas tak
    bertenaga, sehingga hanya bisa memandang saja apa yang sedang dilakukan
    oleh Om Bayu. Mula-mula Om Bayu membuka kemejanya yang dilemparkan ke
    sudut kamar, kemudian secara cepat dia melepaskan celana panjangnya,
    sehingga sekarang dia hanya memakai CD saja. Aku agak ngeri juga melihat
    badannya yang tinggi besar itu tidak berpakaian. Akan tetapi ketika
    tatapan mataku secara tak sengaja melihat ke bawah, aku sangat terkejut
    melihat tonjolan besar yang masih tertutup oleh CD-nya, mencuat ke
    depan. Kedua tangan Om Bayu mulai menarik CD-nya ke bawah secara
    perlahan-lahan, sambil matanya terus menatapku.
    Pada waktu badannya membungkuk untuk mengeluarkan CD-nya dari kedua
    kakinya, aku belum melihat apa-apa, akan tetapi begitu Om Bayu berdiri
    tegak, darahku mendadak serasa berhenti mengalir dan mukaku menjadi
    pucat karena terkejut melihat benda yang berada diantara kedua paha atas
    Om Bayu. Benda tersebut bulat, panjang dan besar dengan bagian ujungnya
    yang membesar bulat berbentuk topi baja tentara. Benda bulat panjang
    tersebut berdiri tegak menantang ke arahku, panjangnya kurang lebih 20
    cm dengan lingkaran sebesar 6 cm bagian batangnya dilingkarin urat yang
    menonjol berwarna biru, bagian ujung kepalanya membulat besar dengan
    warna merah kehitam-hitaman mengkilat dan pada bagian tengahnya
    berlubang dimana terlihat ada cairan pada ujungnya. Rupanya begitu yang
    disebut kemaluan laki-laki, tampaknya menyeramkan. Aku menjadi ngeri,
    sambil menduga-duga, apa yang akan dilakukan Om Bayu terhadapku dengan
    kemaluannya itu.
    Melihat ekspresi mukaku itu, Om Bayu hanya tersenyum-senyum saja dan
    tangan kirinya memegang batang kemaluannya, sedangkan tangan kanannya
    mengelus-elus bagian kepala kemaluannya yang kelihatan makin mengkilap
    saja. Om Bayu kemudian berjalan mendekat ke arahku yang masih telentang
    lemas di atas tempat tidur. Kemudian Om Bayu menarik kedua kakiku,
    sehingga menjulur ke lantai sedangkan pantatku berada tepat di tepi
    tempat tidur. Kedua kakiku dipentangkannya, sehingga kedua pahaku
    sekarang terbuka lebar. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena badanku
    masih terasa lemas. Mataku hanya bisa mengikuti apa yang sedang
    dilakukan oleh Om Bayu.
    Kemudian dia mendekat dan berdiri tepat diantara kedua pahaku yang
    sudah terbuka lebar itu. Dengan berlutut di lantai di antara kedua
    pahaku, kemaluannya tepat berhadapan dengan kemaluanku yang telah
    terpentang itu. Tangan kirinya memegang pinggulku dan tangan kanannya
    memegang batang kemaluannya. Kemudian Om Bayu menempatkan kepala
    kemaluannya pada bibir kemaluanku yang belahannya kecil dan masih
    tertutup rapat. Kepala kemaluannya yang besar itu mulai
    digosok-gosokannya sepanjang bibir kemaluanku, sambil ditekannya
    perlahan-lahan. Suatu perasaan aneh mulai menjalar ke keseluruhan
    tubuhku, badanku terasa panas dan kemaluanku terasa mulai mengembung.
    Aku agak menggeliat-geliat kegelian atas perbuatan Om Bayu itu dan
    rupanya reaksiku itu makin membuat Om Bayu makin terangsang. Dengan
    mesra Om Bayu memelukku, lalu mengecup bibirku.
    “Gimana Rin… nikmat kan…?”, bisik Om Bayu mesra di telingaku, namun
    aku sudah tak mampu menjawabnya. Nafasku tinggal satu-satu, aku hanya
    bisa mengangguk sambil tersipu malu. Aku sudah tidak berdaya
    diperlakukan begini oleh Om Bayu dan tidak pernah kusangka, karena
    sehari-hari Om Bayu sangat sopan dan ramah.
    Selanjutnya tangan Om Bayu yang satu merangkul pundakku dan yang satu
    di bawah memegang penisnya sambil digosok-gosokkan ke bibir kemaluanku.
    Hal ini makin membuatku menjadi lemas ketika merasakan kemaluan yang
    besar menyentuh bibir kemaluanku. Aku merasa takut tapi kalah dengan
    nikmatnya permainan Om Bayu, di samping pula ada perasaan bingung yang
    melanda pikiranku. Kemaluan Om Bayu yang besar itu sudah amat keras dan
    kakiku makin direnggangkan oleh Om Bayu sambil salah satu dari pahaku
    diangkat sedikit ke atas. Aku benar-benar setengah sadar dan pasrah
    tanpa bisa berbuat apa-apa. Kepala kemaluannya mulai ditekan masuk ke
    dalam lubang kemaluanku dan dengan sisa tenaga yang ada, aku mencoba
    mendorong badan Om Bayu untuk menahan masuknya kemaluannya itu, tapi Om
    Bayu bilang tidak akan dimasukkan semua cuma ditempelkan saja. Saya
    membiarkan kemaluannya itu ditempelkan di bibir kemaluanku.
    Tapi selang tak lama kemudian perlahan-lahan kemaluannya itu
    ditekan-tekan ke dalam lubang vaginaku, sampai kepala penisnya sedikit
    masuk ke bibir dan lubang vaginaku. Kemaluanku menjadi sangat basah,
    dengan sekali dorong kepala penis Om Bayu ini masuk ke dalam lubang
    vaginaku. Gerakan ini membuatku terkejut karena tidak menyangka Om Bayu
    akan memasukan penisnya ke dalam kemaluanku seperti apa yang dikatakan
    olehnya. Sodokan penis Om Bayu ini membuat kemaluanku terasa mengembang
    dan sedikit sakit. Seluruh kepala penis Om Bayu sudah berada di dalam
    lubang kemaluanku dan selanjutnya Om Bayu mulai menggerakkan kepala
    penisnya masuk dan keluar dan selang sesaat aku mulai menjadi biasa
    lagi. Perasaan nikmat mulai menjalar ke seluruh tubuhku, terasa ada yang
    mengganjal dan membuat kemaluanku serasa penuh dan besar.
    Tanpa sadar dari mulutku keluar suara, “Ssshh… ssshh… aahh… ooohh…
    Ooomm… Ooomm… eennaak… eennaak… !”
    Aku mulai terlena saking nikmatnya dan pada saat itu, tiba-tiba Om
    Bayu mendorong penisnya dengan cepat dan kuat, sehingga penisnya
    menerobos masuk lebih dalam lagi dan merobek selaput daraku dan akupun
    menjerit karena terasa sakit pada bagian dalam vaginaku oleh penis Om
    Bayu yang terasa membelah kemaluanku.
    “Aadduuhh… saakkiiitt… Ooomm… sttooopp… sttooopp… jaangaan…
    diterusin”, aku meratap dan kedua tanganku mencoba mendorong badan Om
    Bayu, tapi sia-sia saja.
    Om Bayu mencium bibirku dan tangannya yang lain mengelus-elus buah
    dadaku untuk menutupi teriakan dan menenangkanku. Tangannya yang lain
    menahan bahuku sehingga aku tidak dapat berkutik. Badanku hanya bisa
    menggeliat-geliat dan pantatku kucoba menarik ke atas tempat tidur untuk
    menghindari tekanan penis Om Bayu ke dalam liang vaginaku. Tapi karena
    tangan Om Bayu menahan pundakku maka aku tidak dapat menghindari
    masuknya penis Om Bayu lebih dalam ke liang vaginaku. Rasa sakit masih
    terasa olehku dan Om Bayu membiarkan penisnya diam saja tanpa bergerak
    sama sekali untuk membuat kemaluanku terbiasa dengan penisnya yang besar
    itu.
    “Om… kenapa dimasukkan semua… kan… janjinya hanya digosok-gosok
    saja?”, kataku dengan memelas, tapi Om Bayu tidak bilang apa-apa hanya
    senyum-senyum saja.
    Aku merasakan kemaluan Om Bayu itu terasa besar dan mengganjal
    rasanya memadati seluruh relung-relung di dalam vaginaku. Serasa sampai
    ke perutku karena panjangnya penis Om Bayu tersebut. Waktu saya mulai
    tenang, Om Bayu kemudian mulai memainkan pinggulnya maju mundur sehingga
    penisnya memompa kemaluanku. Badanku tersentak-sentak dan
    menggelepar-gelepar, sedang dari mulutku hanya bisa keluar suara,
    “Ssshh… ssshh… ooohh… ooohh…”
    Dan tiba-tiba perasaan dahsyat melanda keseluruhan tubuhku. Bayangan
    hitam menutupi seluruh pandanganku. Sesaat kemudian kilatan cahaya
    serasa berpendar di mataku. Sensasi itu sudah tidak bisa dikendalikan
    lagi oleh pikiran normalku. Seluruh tubuhku diliputi sensasi yang siap
    meledak. Buah dadaku terasa mengeras dan puting susuku menegang ketika
    sensasi itu kian menguat, membuat tubuhku terlonjak-lonjak di atas
    tempat tidur. Seluruh tubuhku meledak dalam sensasi, jari-jariku
    menggengam alas tempat tidur erat-erat. Tubuhku bergetar, mengejang,
    meronta di bawah tekanan tubuh Om Bayu ketika aku mengalami orgasme yang
    dahsyat. Aku merasakan kenikmatan berdesir dari vaginaku, menghantarkan
    rasa nikmat ke seluruh tubuhku selama beberapa detik. Terasa tubuhku
    melayang-layang dan tak lama kemudian terasa terhempas lemas tak
    berdaya, tergeletak lemah di atas tempat tidur dengan kedua tangan yang
    terentang dan kedua kaki terkangkang menjulur di lantai.
    Melihat keadaanku, Om Bayu makin terangsang. Dengan ganasnya dia
    mendorong pantatnya menekan pinggulku rapat-rapat sehingga seluruh
    batang penisnya terbenam dalam kemaluanku. Aku hanya bisa menggeliat
    lemah karena setiap tekanan yang dilakukannya, terasa clitorisku
    tertekan dan tergesek-gesek oleh batang penisnya yang besar dan berurat
    itu. Hal ini menimbulkan kegelian yang tidak terperikan. Hampir sejam
    lamanya Om Bayu mempermainkanku sesuka hatinya. Dan saat itu pula aku
    beberapa kali mengalami orgasme. Dan setiap itu terjadi, selama 1 menit
    aku merasakan vaginaku berdenyut-denyut dan menghisap kuat penis Om
    Bayu, sampai akhirnya pada suatu saat Om Bayu berbisik dengan sedikit
    tertahan.
    “Ooohh… Riiinn… Riiinnn… aakkuu… maau… keluar!.. Ooohh… aahh… hhmm…
    ooouuhh!”.
    Tiba-tiba Om Bayu bangkit dan mengeluarkan penisnya dari vaginaku.
    Sedetik kemudian… cret… crett… crett… spermanya berloncatan dan tumpah
    tepat di atas perutku. Tangannya dengan gerakan sangat cepat
    mengocok-ngocok batang penisnya seolah ingin mengeluarkan semua
    spermanya tanpa sisa.
    “Aahh…”, Om Bayu mendesis panjang dan kemudian menarik napas lega.
    Dibersihkannya sperma yang tumpah di perutku. Setelah itu kami
    tergolek lemas sambil mengatur napas kami yang masih agak memburu
    sewaktu mendaki puncak kenikmatan tadi. Dipandanginya wajahku yang masih
    berpeluh untuk kemudian disekanya. Dikecupnya lembut bibirku dan
    tersenyum.
    “Terima kasih sayang…”, bisik Om Bayu dengan mesra. Dan akhirnya aku
    yang sudah amat lemas terlelap di pelukan Om Bayu.
    Setelah kejadian itu, pada mulanya aku benar-benar merasa gamang.
    Perasaan-perasaan aneh berkecamuk dalam diriku, walaupun ketika waktu
    itu, saat aku bangun dari tidurku Om Bayu telah berupaya menenangkanku
    dengan lembut. Namun entah kenapa, setelah beberapa hari kemudian, kok
    rasanya aku jadi kepengin lagi. Memang kalau diingat-ingat sebenarnya
    nikmat juga sih. Jadi sepulang sekolah aku mampir ke rumah Om Bayu,
    tentu saja aku malu mengatakannya. Aku hanya pura-pura ngobrol kesana
    kemari, sampai akhirnya Om Bayu menawarkan lagi untuk main-main seperti
    kemarin dulu, barulah aku menjawabnya dengan mengangguk malu-malu.
    Begitulah kisah pengalamanku, ketika pertama kalinya aku merasakan
    kenikmatan hubungan seks.

      Waktu sekarang 24th June 2018, 3:37 pm